Konsep, Teknik, Simbol, Nilai Estetis dan Prosedur dalam Gerak Dasar Tari Tradisional

Selamat datang kembali di blog Artikel Pandai, pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari pelajaran Seni Budaya “Konsep, Teknik, Simbol, Nilai Estetis dan Prosedur dalam Gerak Dasar Tari Tradisional”. Setiap tari memiliki gerak berbeda tetapi memiliki kesamaan yaitu memiliki tenaga, ruang dan waktu. Indonesia memiliki keragaman gerak tari yang berbeda antar suku. Untuk lebih jelasnya mari kita simak pembahasannya di bawah ini. Semoga bermanfaat.
gerak dasar tari tradisional

Konsep, Teknik dan Prosedur Gerak Dasar Tari Tradisional

1.Konsep dan Ragam Rerak Tari Daerah

        Konsep, Teknik, Simbol, Nilai Estetis dan Prosedur dalam Gerak Dasar Tari Tradisional-   Setiap daerah memiliki budaya dan selera yang berbeda – beda. Oleh karena itu, jika kita mengamati tariannya terdapat perbedaan bentuk gerak dan teknik memperagakannya .Ragam gerak tari kerakyatan banyak menggunakan imitataif dan ekspresif .Gerakannya menirukankegiatan dan emosi manusiasampai menirukan perangai bintang.

            Ragam gerak tari klasik banyak menggunakann gerak murni dan gerak ekspresif serta imitatif yang telah distilasi atau diperhalus .Tema gerakannya juga menirukan kegiatan manusia dan perangai hewan,tetapi geraknya sudah terpilih dan mempunyai nilai simbolik dengan patokan atau pola-polagerak yang sudah di tentukan .

          Ragam gerak tari kreasi baru merupakan paduan beberapa ragam gerak tradisional sehinnga menjadi bentuk baru.bentuk baru ini terasa lebih dinamis dan energik karena didukung oleh generasi muda dan di tata oleh koreografer yang kreatif.

           Untuk menjadikan rangkaian gerak tari,penari harus menguasai gerak dasar anggota tubuh sebagai sarana pengekspresian tari.gerak dasr suatu tari dari beberapa kelompok yaitu sebagai berikut.

a.Gerak Kaki 
           Telapak kaki berperan penting dalam pelakasanaan sikap dan gerak kaki yang bisa menambah keindahan sikap gerak seluruh tubuh .Dasar sikap kaki yang utama adalah sebagai berikut.
  • Sikap telapak kaki rapat kembar.
  • Sikap telapak kaki rapat silang.
  • Sikap telapak kaki renggang silang.
  • Sikap telapak kaki rapat siku
  • Sikap telapak kaki renggang.
      Sikap telapak telapak kaki yang tidak penuh dan banyak menghiasi gerak tari tradisional yaitu sebagai berikut.
  1. Tumit terangkat (jinjit)
  2. Menapak pada ujung kaki kembar .
  3. Tekukan kaki,pada pergelangan ,lutut,dan pangkal paha.
b.Gerak Tangan
       Gerak tangan merupakan ciri yang menonjol dari seni tari dunia timur .pada dunia barat ,gerak tari lebih menonjolkan gerak kaki sebagai ekspresi ide tari.
c.Gerak Bahu dan Kepala 
           Gerakan ini sangat berperan pada tarian tradisi ketimuran di samping menjadi pelengkap pada gerak yang dapat memperkuat suatu sikap atau gerak.
d. Gerak Mata 
         Gerakan ini merupakan pelengkap dari sikap dan gerak kepala dalam mewujudkan keterpanaan pengungkapan bersama anggota badan lain.
e. Gerak Lambung
     Sikap dan gerak lambung mengesankan bentuk badan membesar.

2. Asal Gerak dan  Menyusun Gerak

      Gerak dapat diperoleh melalui ekplorasi atau penjelajahan. Eksplorasi merupakan proses berfikir, berimajinasi, merasakan, dan merespon objek yang diperoleh melalui pancaindra. Objek tersebut dapat berupa benda, alam, suara, dan rasa. Mengamati karya seni dapat menimbulkan imajinasi yang merangsang terjadinya respon gerak spontan. Adapun penjelajahan rasa, seperti panas, dingin, marah, senang dan sedih akan membantu pencarian gerak ekspresif. Gerak-gerak ini dapat kita himpun menjadi gerakan tari yang indah. Untuk mempermudah mencari dan merespons gerak, kita harus mengetahui tema dari tari tersebut.

       Tema merupakan gambaran awal gerak-gerak yang diperagakan, contohnya sebagai berikut.
  • Kepahlawanan, gerak yang muncul adalah gerak pencak silat, perang, bela diri, atau contoh kanuragan.
  • Kesedihan, gerak yang muncul adalah gerak permohonan.
  • Kegembiraan, gerak yang muncul adalah gerak sukacita, meloncat-loncat, melambai-lambai, melenggang, dan bergoyang.
  • Binatang, gerak yang muncul adalah menirukan tingkah laku binatang.
     Setelah gerak-gerak yang dimaksud telah berkumpul, barulah dirangkai menjadi tarian.
Menyusun gerak yang baik adalah memadukan gerak maknawi dengan gerak murni, dirangkai sesuai dengan tema yang sudah ditentukan dan sudah mencakup arah gerak dan arah hadap.

     Arah memberikan orientasi pada tarian. Ada dua macam arah dalam menari yaitu sebagai berikut.
  • Arah handap, menunjukan arah penari menghadap, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, menengadah, atau menunduk.
  • Arah gerak, menunjukan arah penari akan bergerak, membuat lingkaran, zigzag, berjalan maju dan mundur, serong diagonal, spiral, dan sebaginya.
    Dalam menata tari  perlu diperhatikan level dan kepadatan yaitu sebagai berikut.
a. Level yaitu tingkat jangkauan gerak atau tinggi rendahnya gerak.
  1. Level tinggi    : berdiri
  2. Level sedang  : membungkuk
  3. Level rendah  : duduk
b. Kepadatan (Density)
      Penguasaan ruang oleh penari penting untuk tari kelompok. Penempatan atau formasi penari di atas pentas harus sedemikian rupa sehingga indah dan tidak tampak penuh. Penata tari yang baik juga memperhatikan  desain tari. Desain adalah garis yang terlihat oleh penonton yang ditimbulkan oleh gerak penari. Garis yang dilalui di lantai oleh para penari disebut desain bawah, misalnya garis diagonal, horizontal, zig-zag, spiral, dan lain-lain. Garis yang dilihat oleh penonton sebagai geakan penari di atas pentas adalah desain atas, contohnya loncatan, gerak payung, pita, dan lain-lain.
Merankai gerak agar indah dan menarik perlu adanya harmoni. Harmoni dapat dicapai bila koreografer memperhatikan atau memadukan gerak dengan hal-hal berikut.
  • Irama sebagai pengiring dan pemertegas gerakan.
  • Pengusaan ruangan dengan desain atas, bawah, dan medium.
  • Penataan komposisi penari untuk mengatasi kejenuhan sesuai dengan jumlah penari.
  • Penggunaan rias dan busana yang selaras dan mencerminkan tema.

Simbol dalam Tari

   Kelahiaran  seni tari tidak bisa dilepaskan dari zamannya dan mencerminkan situasi, kondisi dan budaya saat itu. Seni tari sebagai bagian kesenian tidak terlepas dari simbol yang digunakan untuk mewujudkannya, bahkan hampir setiap kegiatan manusia selalu menggunakans simbol karena manusia merupakan animal simbolicum atau makhluk yang bermain dengan simbol-simbol. Selain itu, manusia adalah Homo estheticus, yaitu setiap manusia memiliki rasa indah meskipun keindahan tidak memiliki bentuk mutlak. Oleh karena itu, manusia selalu bermain dengan simbol yang sesui dengan pengalaman keindahannya masing-masing. Manusia dapat menggunakan akal budi dan pikirannya untuk memahami simbol dan menjadikannya sebuah sarana untuk merespon terhadap segala sesuatu yang dihadapi dalam hidupnya.
     Hubungan anatar simbol dan seni sangat erat karena biasanya berkaitan dengan pemujaan terhadap sesuatu atau yang sifatnya religius dan ini diwujudkan berupa tarian, patung, lukisan dan nyanyian dalam bentuk simbol-simbol. Simbol selalu mencerminkan sesuatu yang sedang dirasakan sang kreator yang sebelumnya memlui proses kreatif shingga orang lain yang melihat ataupun mendengarnya dapat merasakan hal yang sama.

Nilai Estetis dalam Gerak Tari

    Berbicara mengenai simbol akan berkaitan dengan estetika. Estetika diartikan indah. Pada awalnya estetika mencakup seluruh nilai seperti nilai seni, alam moral, dan intelektual. Perkembangan berikutnya, definisi estetika (keindahan) adalah kesatuan dari hubungan bentuk yang terdapat diantara kesadaran kita. Dengan demikian estetika bukan bagian dari kualitas atau peristiwa, melainkan cara kita menagkapnya atau mengacu pada selera. Simbol dan estetika tari dapat diamati  malalui wirama (irama), wiraga (keterampilan gerak), wirasa (rasa), serta unsur-unsur yang mendukungnya seperti musik.

Hasil karya seni merupakan ungkapan perasaan yang dibentuk dari unsur-unsur yang dipadu menjadi satu kesatuan yang utuh untuk dapat dinikmati secara estetis. Seorang seniman mengomunikasikan pikiran dan perasaannya dalam bentuk karya seni untuk dinikmati nilai-nilai keindahannya oleh para penikmat seni. Untuk memahami hasil keindahan karya seni, masing-masing memiliki tolak ukur atau kriteria tersendiri, misalnya pada karya surakarta nilai-nilai keindahan tari terangkum dalam hasta sawanda serta wiraga, wirama, dan wirasa. Adapun hasta sawanda berarti delapan , sa/esa artinya satu, wanda artinya  muka atau badan. Jadi hasta sawanda berarti delapan ketentuan normatif yang menjadi satu kesatuan untuk diterapkan bagi seorang penari agar membawakan suatu tarian dengan baik. Unsur-unsur pada hasta sawanda yaitu sebagai berikut.

  1. Pacak   : Suatu norma atau ketentuan yang meliputi keseluruhan ekspresi gerak setiap tarian yang harus diterapkan dan diataati. Sebagai contoh dalam membawakan tokoh Srikandhi pacaknya berbeda dengan tokoh Shinta meskipun karakter tarinya sama-sama tari putri.
  2. Pancat  : Pola kesinambungan antara motif gerak satu dan motif gerak lainnya yang dirangkai secara berurutan, serasi, dan menyatu.
  3. Ulat      : Sikap pandangan, polatan, atau ekspresi wajah ketika menari supaya mencapai dramatik peran yang dibawakan, seperti ekspresi gembira, sedih, gelisah, dan sebagainya.
  4. Lulut    : Hafal secara secara keseluruhan dengan insting sehingga gerakan-gerakan tarinya akan keluar dengan sendirinya tanpa harus mengingat atau menghafal.Wiled  : Kreatifitas yang menjadi ciri (gaya) setiap penari yang diterapkan saat melakukan gerakan tari.
  5. Luwes   : Gerakan tari luwes dan enak dipandang yang biasanya dipengaruhi faktor pembawaan atau bakan seseorang.
  6. Irama    : Ketukan-ketukan tertentu yang mengatur cepat-lambatnya gerakan tari. Penari harus dapat menepati irama, artinya tidak boleh mendahului ataupun ketinggalan dalam irama tersebut.
  7. Gending : Seorang penari harus memahami dan mampu menerapkan bentuk-bentuk gending sebagai iringan tari serta dapat mengetahui saat jatuhnya ketuk, kenong, kempul, dan gong.

Perhatikan contoh analisis simbol dan nilai estetis tari tradisional (tari payung) dari aspek secara keseluruhan mulai gerak, busana, iringan, hingga properti yang digunakan!

1. Deskripsi Tari Payung dari Sumatera Barat

Tari payung merupakan tari klasik masyarakat Minang (Sumatera Barat) yang mengisahkan kasing sayang sepasang kekasih. Tari ini merupakan jenis tari pergaulan muda-mudi yang dilambangkan dengan payung yang melambangkan pelindung. Tarian ini dimainkan secara berpasangan, penari laki-laki menggunakan payung, sedangkan penari perempuan menggunakan selendang sebagai pelengkap. Tari ini biasanya ditarikan secara khusus pada upacara adat seperti pernikahan dan pada kegiatan tertentu, seperti pesta, perayaan tertentu, dan lain-lain.

2. Kostum Tari

Kostum tari yang digunakan bervariasi sesuai dengan kebutuhan acara yang sedang dilaksanakan. Namun, pada umumnya menggunakan pakaian adat tradisional Sumatera BArat. Penari wanita memakai hiasan kepala berupa gelang-gelang, kalung bersusun, dan anting. Penari laki-laki mengggunakan baju khas Sumatera Barat yaitu celana panjang , baju lengan panjang dengan hiasan kepala (saluak), dan selembar kain selempang di bahu, ditambah kain songket yang melingkar di badan. Penari lelaki membawa payung, sedangkan penari perempuan memakai selendang.

3. Ragam Gerak Tari

Di dalam tarian ini, yang membawa payung hias adalah penari pria. Payung ini dibawa dalam gerakan menari yang aktraktif, sementara penari perempuan mengiringi dengan menari menggunakan selendang. Masing-masing pasangan menari berputar dan bersebelahan dengan irama musik yang semakin lama semakin dibuat cepat sehingga semakin lama tarian terlihat semakin dinamis.
Tarian ini dulunya termasuk tarian yang memiliki pakem cukup ketat dalam berbagai aspek, termasuk dalam gerakannya. Akan tetapi dengan semakin banyaknya

4. Iringan Tari

Musik ala melayu dengan alat musik yang bervariasi semakin membuat tarian ini semakin menarik untuk dilihat. Lagu yang digunakan dalam mengiringi tari Payung berjudul Berbendi-bendi Sungai Tanang. Lagu ini mengisahkan seorang suami istri yang baru saja menikah dan berbulan madu. Mereka mandi di sungai Tanang.

5. Simbol dan Makna Tari Payung

Ada makna tersendiri di balik properti yang dibawa oleh para penari laki-laki dan perempuan dalam tari payung. Penari laki-laki menggunakan payung  melambangkan seorang laki-laki yang harus menjadi pelindung dan bertanggungjawab terhadap pasangannya. Adapun penari perempuan dengan selendangnya melambangkan kesiapan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Tari payung menggambarkan kasih sayang yang kuat dengan pasangannya dalam mengarungi bahtera rumah tangga, baik dalam keadaan suka maupun duka. Hal ini terpancar dari gerakan tari yang mengalun pelan dan kencang. Alunan musik yang tenang dengan gerakannya yang pelan menyiratkan kehidupan tanpa kesusahan, sedangkan alunan musik yang kencang menyiratkan kehidupan yang naik turun. Jadi, pada dasarnya tari ini menyimbolkan kewajiban suami dalam melindungi istrinya.

Nah itulah pembahasan materi pelajaran seni budaya mengenai konsep, teknik, simbol dan prosedur gerak dasar tari.

2 Comments

Add a Comment