Bukti dan Pendapat Para Ahli mengenai Masuknya Islam ke Indonesia

Masuknya Islam ke Indonesia ,Perhatikan gambar di samping! Gambar di samping adalah nisan kubur Sultan Malik as-Saleh tahun 1297 M dari kerajaan Samudera Pasai. Nisan kubur Sultan Malik as-Saleh merupakan salah satu sumber sejarah mengenai masuknya agama Islam ke Indonesia. Kedatangan Islam ke Nusantara mempunyai sejarah yang panjang. Satu diantaranya mengenai interaksi ajaran islam dengan masyarakat di Nusantara yang kemudian memeluk Islam.nisan kubur Sultan Malik as-Saleh

Adapun wujud dari keberlangsungan interaksi tersebut hingga kini masih terlihat, yaitu banyaknya umat muslim Indonesia yang menjalankan ibadah haji dan umrah. Selain hal tersebut, tidak sedikit para ulama dari Timur Tengah yang berkunjung ke Indonesia dalam rangka berdakwah. Dengan berbagai bentuk intraksi tersebut akan lebih memantapkan kaimanan dan ketakwaan terhadap ajaran agamanya. berikut akan kita pelajari proses masuknya Islam ke Indonesia.

Sejak abad ke-7, Islam sudah masuk ke Indonesia secara damai. Namun, baru berkembang pada abad ke-13 sejalan dengan mundurnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha di Indonesia dan ramainya pedagang-pedagang Arab, Persia, dan Gujarat ke Indonesia.

Bukti dan Pendapat Para Ahli mengenai Masuknya Islam ke Indonesia

Masuknya Islam ke Indonesia

Ada beberapa pendapat mengenai proses masuknya Islam ke kepulauan Indonesia.

  1. Pijnapel, C.Snouck Hurgronye, dan J.P. Moquetta

Menurut sarjana-sarjana dari Barat (kebanyakan dari Belanda), bahwa Islam masuk ke kepulauan Indonesia sekitar abad ke-13 M dan berasal dari Gujarat. Pendapat tersebut mengasumsi bahwa Gujarat terletak di India bagian barat, berdekatan dengan Laut Arab dan letaknya sangat strategis berada di jalur perdagangan antara timur dan barat. Sejak awal tahun Hijriah, pedagang arab yang bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan Malabar.

Menurut Pijnapel, orang yang menyebarkan Islam ke Indonesia bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan para pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia Timur. Pendapat Pijnapel ini didukung oleh C. Snouck Hurgronye dan J.P Moquetta (1912), dengan argumentasi yang didasarkan pada batu nisan Sultan Malik as-Saleh yang meninggal pada 17 Zulhijah 831 H atau 1927 M di Pasai, Aceh. Menurut mereka batu nisan di Pasai dan makan MAulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1914 di Gresik, Jawa Timur memiliki bentuk yang sama dengan batu nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Oleh karena itu, J.P Moquetta menyimpulkan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat.

2. Husein Jayadiningrat

Menurut Husein, Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Persia (Iran sekarang). Pendapat Husein ini didasarkan pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Persia dan Indonesia. Tradisi tersebut seperti tradisi merayakan 10 Muharam atau Asyura sebagai hari suci kaum syiah atas kematian Husein bin Ali, seperti yang berkembang dalam tradisi tabot di Pariaman, Sumatra Barat dan di Bengkulu.

3. Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)

Menurut Hamka, Islam berasal dari tanah kelahirannya, yaitu Arab atau Mesir. Proses tersebut berlangsung pada abad-abad pertama hijriah.

4. Anthony H. Johns

Menurut Anthony,proses islamisasi dilakukan oleh para musafir (kaum pengembara) yang datang ke kepulauan Indonesia. Kaum tersebut biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat yang lainnya dengan motivasi hanya pengembangan agama Islam.

5. Soetjipto Wirjosoeparto

Soetjipto Wirjosoeparto berpendapat Islam masuk ke Indonesia melalui Gujarat, India. Hal tersebut dibuktikan dengan salah satu makam raja Islam di Samudera Pasai yang nisannya menggunakan batu yang berasal dari Gujarat, India.

6. Alwi Sihab

Alwi Sihab berpendapat bahwa Islam pertama kali masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah atau sekitar abad ke tujuh Masehi dibawa oleh pedagang Arab yang masuk ke Cina melalui jalur barat. Teori tersebut didasarkan pada berita Cina pada masa dinasti T’ang yang menyatakan adanya perkampungan Arab di Cina. Dalam perkampungan tersebut penduduknya diberikan kebebasan untuk menjalankan ibadah berdasarkan keyakinannya. Cina yang dimaksudkan dalam berita Cina adalah gugusan pulau di Timur Jauh, termasuk kepulauan Indonesia. JAdi, jalur awal penyebaran Islam di Indonesia menurut Alwi SIhab, bukan berasal dari jalur Arab, India, dan Persia, melainkan dari Arab langsung.

Adapun bukti masuknya islam ke Indonesia ke Nusantara antara lain sebagai berikut.

  1. Berita Cina dari dinasti T’ang. Menurut berita Cina ini, disebutkan adanya rencana serangan orang-orang Ta-shih pada tahun 674 M terhadap Kerajaan Holing yang diperintahkan Ratu Sima. Sebutan Ta-shih ditafsirkan sebagai orang-orang Arab dan Persia.
  2. Berita Arab, menyebutkan sekitar abad ke-8 M pedagang Arab yang beragama Islam telah mengadakan kegiatan perdagangan di Sriwijaya termasuk Selat Malaka. Hal tersebut terbukti dengan sebutan Sribusa, Zaba, atau Zabag bagi Sriwijaya.
  3. Berita dari Marcopolo (munafsir dari Vanesia, Italia). Dalam perjalanannya dari Cina ke Persia, pada tahun 1292 Marcopolo singgah di Peureula (periak) Aceh. Di Aceh Marcopolo menjumpai penduduk yang beragama Islam dan banyak berdagang di Gujarat, India yang menyebarkan Islam.
  4. Berita dari Ibnu Battuta (seorang utusan Sutan Dehli, India ke Cina) menyatakan bahwa di Sumatera terdapat kerajaan Islam.
  5. Berita dari Mahuan (musafir Cina yang beragama Islam) menyatakan bahwa sekitar tahun 1416 telah ada perdagang-pedagang Islam yang tinggal di pantai utara Pulau Jawa.
  6. Di Leran, dekat Gresik ditemukan batu tulis dalam bahasa Arab. Batu tulis itu memuat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan yang bernama Fatimah binti Maimun dengan angka tahun 1082 M.
  7. Makam Sultan Malik as-Saleh, seorang raja dari kerajaan Samudera Pasai.
  8. Adanya kompleks makam Islam Tralaya di Trowulan (pada nisan memuat angka tahun dari tahun 1369-1611).
  9. Adanya makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, merupakan makam seorang saudagar islam yang mengadakan kegiatan penyiaran Islam di Pulau Jawa.

Dari sumber-sumber tersebut, dapat dipastikan bahwa pengaruh Islam di Indonesia telah berkembang sejak masa kerajaan Hindu hingga pada suatu saat perkembangan Islam dapat menggeser pengaruh Hindu di Indonesia.

Semua pendapat di atas tidak mengada-ngada, tetapi saling melengkapi. Islamisasi yang ada di kepulauan Indonesia merupakan hal yang kompleks hingga sekarang prosesnya masih terus berjalan. Pasai dan Malaka merupakan tempat tongkat estafet islamisasi dimulai. Pengaruh Pasai kemudian diwarisi Aceh Darussalam, sedangkan Johor tidak pernah bisa melupakan jasa dinasti Palembang yang pernah berjaya dan mengislamkan Malaka. Demikian pula Sulu dan Mangindanau akan selalu mengingat Johor sebagai pengirim Islam ke wilayahnya. Sementara itu, Minangkabau akan selalu mengingat Malaka sebagai pengirim Islam  dan tidak akan melupakan Aceh sebagai peletak dasar tradisi surau di Ulakan. Sebaliknya, Pahang akan selalu mengingat pendatang dari Minangkabau yang telah membawa Islam. Dalam tradisi Luwu dan Gowa-Tallo, peranan para perantau dan penyiar agama Islam dari Minangkabau akan selalu diingat.

Pada pertengahan abad ke-15, ibu kota Campa, Wijaya jatuh ke tangan Vietnam yang datang dari utara. Campa dalam kenangan historis  Jawa selalu diingat dalam kaitannya dengan islamisasi. Dari Campa inilah Raden rahmat anak seorang putri Campa dengan seorang Arab datang ke Majapahit untuk menemui bibinya yang telah menikah dengan raja majapahit. Beliau dikenal sebagai Sunan Ampel 9salah seorang Wali Sanga).

Dalam sumber Belanda, Sunan Giri tidak saja berpengaruh di kalangan para wali, tetapi juga dikenang sebagai penyebar agama Islam di kepulauan Indonesia bagian timur. Sultan Zainal Abidin (Raja Ternate) pergi ke Giri (1945) untuk memperdalam pengetahuan agama. Setelah kembali ke Ternate Sultan Zainal Abidin meninggal, tetapi beliau telah menjadikan Ternate sebagai kekuatan Islam. Di bagian yang lain, Demak telah berhasil mengislamkan Banjarmasin. Mata rantai proses islamisasi di kepulauan Indonesia tersebut masih terus berlangsung. Jaringan kolektif keislaman di kepulauan Indonesia inilah yang nantinya mempercepat proses terbentuknya nasionalisme Indonesia.

No Responses

Add a Comment