Meneladani Perjuangan Rasulullah saw di Mekah-Madinah

Meneladani Perjuangan Rasulullah saw di Mekah: Nabi Muhammad saw adalah manusia termulia di muka bumi ini. Beliau diutus oleh Allah SWT untuk semua umat manusia dengan membawa ajaran tauhid yaitu agama Islam. Kemuliaan dan kebesarannya tidak hanya diakui oleh umat Islam, tetapi juga oleh orang-orang barat, tidak hanya diakui oleh pengikutnya, tetapi juga oleh para lawannya.

Dalam menyampaikan ajaan Islam Nabi Muhammad saw menghadapi banyak tantangan dan hambatan baik berupa tekanan fisik maupun teror mental. Namun, dengan perjuangan dan kegigihannya beliau berhasil menyebarkan  Islam ke seluruh zajirah Arab sampai ke berbagai penjuru dunia, seperti yang kita rasakan sekarang. Untuk lebih jelas bagaimanakah dakwah Rasulullah saw dalam menyebarkan Islam di Mekah, coba ikuti pembahasan berikut!

Meneladani Perjuangan Rasulullah saw di Mekah-Madinah

A. Meneladani Perjuangan Rasulullah Saw di Mekah

  1. Subtansi Dakwah Rasulullah Saw di Mekah

a. Kerasulan Nabi Muhammad saw dan Wahyu Pertama

Pada saat usia 40 tahun, Rasulullah saw sering berkhalawat (mengasingkan diri) di Gua Hira untuk memohon petunjuk Allah Swt mengenai cara memperbaiki keadaan bangsa arab yang pada saat itu sedang mengalami kehancuran. Menjelang kedatangan Islam, bangsa Arab sedang dalam keadaan terpuruk dan porak poranda dalam segala bidang baik bidang ketuhanan, moral, sosial politik, persatuan, maupun yang lainnya.

Kegiatan berkhalawat (mengasingkan diri) tersebut dilakukan oleh rasululla saw di Gua Hira selama berhari-hari. Hingga pada suatu saat, ketika beliau berkhalawat (mengasingkan diri) lebih dari satu bulan lamanya, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan tahun 610 M datanglah malaikat Jibril kepada Rasulullah saw di dalam gua tersebut untuk menyampaikan wahyu pertama, saitu surah Al-Alaq ayat 1-5, yang berbunyi :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘Alaq, Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya”

Inilah wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad Saw sebagai awal diangkatnya beliau sebagai rasul bagi seluruh umat manusia dan tugasnya untuk berdakwah. Kejadian ini diceritakan kepada istrinya Khadijah dan saat itu juga Khadijah mengimaninya. Dialah orang yang pertama beriman dan masuk Islam.

Setelah turun wahyu tersebut, Rasulullah saw merasa kebingungan tentang  apa yang harus dilakukan, sebab belum ada perintah yang jelas tentang tugas-tugasnya sebagai rasul Allah Swt. Kondisi demikian itu berlangsung lama, sampai-sampai rasulullah saw hampir putus asa sebab wahyu berikutnya yang ditunggu-tunggu belum kunjung datang. Kurang lebih dua setengah tahun dari turunnya wahyu pertama, akhirnya wahyu yang kedua mulai diterimanya, yaitu surah Al-Muddassir ayat 1-7, yang berbunyi :

يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5)

وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)

Artinya : “1). Hai orang yang berkemul (berselimut), 2). Bangunlah, lalu berilah peringatan! 3). Dan Tuhanmu agungkanlah! 4. Dan pakaianmu bersihkanlah, 5). Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6). Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7). Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah .” (QS.Al-Mudatsir-1-7)

Sejak turun wahyu tersebut, rasulullah saw melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Maksudnya agar manusia tidak terkejut terhadap ajaran Islam yang belum pernah mereka ketahui dan mereka dengar. Sasaran dakwah rasulullah saw secara sembunyi-sembunyi adalah para kerabatnya, handai tolan, dan sahabat-sahabat yang percaya terhadap kebenaran risalahnya. Rasulullah saw menyeru, bersatu padu, dan saling bersatu.

Selama tiga tahun lebih Rasulullah saw menyampaikan dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi. Berkat kegigihan Rasulullah saw akhirnya banyak pula yang tertarik dan menyatakan diri untuk masuk agama Islam . MEreka itu kemudian dikenal dengan istilah as-sabiqun al-awallun artinya orang yang pertama-tama masuk Islam.

Baca juga : “Pembagian Hukum Islam : Hukum Taklifi dan Hukum Wad’i (Sebab,Syarat,Man’i/Penghalang) ;Ulama Ushul Fikih”

Orang yang pertama kali beriman dari pihak perempuan adalah Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah saw) dan dari kalangan laki-laki yang pertama kali beriman adalah Abu Bakar Sidik. Abu Bakar adalah sahabat dan teman dekat Nabi sejak usia remaja serta mengenal baik sifat dan akhlak kepribadian beliau. Dari kalangan anak-anak yang pertama kali masuk Islam adalah Ali bin Abu Talib. Ali adalah sepupu Nabi Muhammad Saw.

Begitu pula dari kalangan hamba sahaya yang pertama kali masuk Islam adalah Zaid bin Harisah. Zaid bin Harisah adalah hamba sahaya yang telah domerdekakan oleh Khadijah dan tinggal bersama Nabi. Setelah merdeka,dia diangkat anak oleh Rasulullah Swa dan Khadijah. Oleh karena itu ketika Rasulullah berdakwah di kalangan sanak keluarganya, Zaid menyatakan diri masuk islam.

 

b. Ajaran-Ajaran Pokok Rasulullah saw di Mekah

  1. ) Akidah

Rasulullah saw diutus oleh Allah Swt untuk membawa ajaran tauhid. Masyarakat Arab yang saat ia dilahirkan bahkan jauh sebelum ia lahir, hidup dalam praktik kemusyrikan. Ia sampaikan kepada kaum quraisy bahwa Allah Swt Maha Pencipta dan Maha Kuasa, Allah Swt memelihara seluruh makhluk-Nya dan Dia sediakan seluruh kebutuhannya, termasuk manusia. Ajaran keimanan ini yang, yang merupakan ajaran utama yang diembankan kepada Nabi Muhammad Saw yang bersumber pada wahyu-wahyu ilahi.

Di antara ayat Al-quran yang memerintahkan beliau agar menyampaikan keimanan sebagai pokok ajaran Islam yang sempurna adalah surah Al-ikhlas ayat 1-4 berikut.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
Artinya : Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Ajaran tauhid ini sangat berbekas dalam hati Nabi dan para pengikutnya sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat , mapan, dan tak tergoyahkan

2.) Akhlak Mulia

Berkaitan dengan akhlak mulia, Nabi Muhammad saw tampil sebagai teladan yang baik (ideal). Sejak sebelum menjadi Nabi, beliau telah tampil sebagai sosok yang jujur sehingga diberi gelar oleh masyrakatnya sebagai al-Amin (yang dapat dipercaya). Nabi Muhammad suka menolong dan meringankan beban orang lain. Dalam hal memelihara hubungan kekeluargaan serta persahabatan, Nabi Muhammad saw tampil sebagai sosok yang sopan, lembut, menghormati setiap orang serta memuliakan tamu. Nabi Muhammad saw juga tampil sebagai sosok yang berani dalam membela kebenaran, teguh pendirian, dan tekun dalam beribadah. Nabi Muhammad saw mengajak seluruh masyrakat Arab meninggal kan perilaku yang tidak terpuji, seperti berjudi, meminum minuman keras (khamar), berzina, membunuh, dan kebiasaan buruk lainnya.

2. Profil Dakwah Rasulullah Saw pada Periode Mekah

Sebernarnya, dakwah rasulullah saw selama periode Mekah terbilang sukses. Meskipun banyak aral melintang, cobaan, gangguan, dan ancaman datang silih berganti dn nyaris tidak pernah berhenti selama lebih kurang 12 tahun beliau berdakwah. Indikator kesuksesan itu tampak dari banyaknya pengikut yang setia dan seap mengorbankan harta, bahkan jiwa raga untuk membela agama Islam yang dianutnya.

Kesuksesan dakwah Rasulullah Saw periode Mekah itu, tidak terlepas dari  profil dan karakter dakwah beliau yang sangat simpatik dan mengagumkan banyak orang. Diantara profil dakwah Rasulullah saw periode Mekah paling menonjol  sebagai berikut.

a. Berdakwah dengan Sikap Lemah Lembut

Rasulullah saw menyadari bahwa suku bangsanya (bangsa Quraisy) tergolong suku bangsa yang berwatak keras dan pemberani. Oleh sebab itu, jika dakwah Islam disampaikan dengan sikap perilaku yang arogan dan tidak lemah lembut, agama Islam tidak akan diterima oleh mereka, sekalipun oleh kaum budak belian atau hamba sahaya.

b. Berdakwah kepada Keluarga dan Karib Kerabat Terdekat

Menyadari bahwa menyelamatkan diri sendiri dan keluarganya dari api neraka itu lebih utama. Rasulullah saw mendahulukan berdakwah di kalangan keluarganya, mula-mula istrinya, pamannya, sepupunya, sahabat dekatnya, dan kemudian keluarga jauh. Dengan demikian banyak sanak keluarga yang siap menjadi pengikut dan sekaligus pelindungnya dari ancaman musuh.

c. Berdakwah dengan Sikap Perilaku Jujur dan Amanah

Sejak kecil Rasulullah saw dikenal sebagai orang yang paling jujur dan amanah. Seumur hidupnya tidak pernah berdusta dan tidak pernah berkhianat. Ucapannya senantiasa menunjukan kejujuran dan sikap perilakunya dapat dipercaya. Berkat sikap perilaku jujurnya itulah banyak orang simpati dan percaya terhadap pembicaraanya.

c. Berdakwah dengan  Sikap Sabar dan Tawakal

Begitu beratnya penderitaan yang ditanggung Rasulullah saw ketika berdakwah di Mekah. Namun, beliau tidak pernah menyerah apalagi membalas perbuatan keji musuh-musuhnya. Sebaliknya, beliau tetap bersabar dan bertawakal kepada Allah Swt seraya mendoakan kaumnya itu agar mendapat petunjuk Allah Swt.

d. Berdakwah dengan Sikap Tasamuh (Toleran)

Menyadari bahwa agama yang disampaikannya tergolong agama baru, Rasulullah saw senantiasa menunjukan sikap toleran terhadap pemeluk agama lain. Agama Islam di sebarkan tidak dengan paksaan, tetapi dengan jalan sukarela dan sikap saling menghormati dan menghargai.

 

3. Pengaruh Dakwah Rasulullah Saw

Profil dakwah yang dimiliki oleh Rasulullah saw sebagaimana tersebut di atas, jelas sangat berpengaruh bagi perkembangan dakwah Islam selanjutnya. . Lambat tetapi pasti banyak orang yang ingin menyatakan isi hatinya untuk masuk agama Islam. Hanya saja waktu itu tekanan dan ancaman kaum kafir Quraisy masih sangat kuat sehingga banyak orang yang memilih menunggu situasi yang memungkinkan untuk menyatakan diri untuk masuk Islam. Tidak sedikit orang yang menyatakan keislamannya secara diam-diam, bahkan ada diantara mereka yang berasal dari kalangan bangsawan dan hartawan.

Dakwah rasulullah saw selama periode mekah sangat berkesan dan berpengaruh di hati umatnya. Sebab selain mengajarkan tentang keesaan Tuhan (tauhidiah), rasul juga mengajarkan tentang tata aturan dan norma yang berhubungan dengan kehidupan manusia, baik secara individu maupun kelompok. Beliau mengajarkan tentang bagaimana manusia bergaul dengan Tuhannya, sesama manusia dan alam lingkungannya yang semuanya mengutamakan kebersamaan, demokrasi, dan keadilan.

MAteri dakwah yang disampaikan rasulullah saw pada waktu itu sangat relevan dengan tuntutan kehidupan manusia sehingga bagi kebanyakan masyarakat mekah ajaran islam yang disampaikan beliau dianggap sebagai angin segar untuk perubahan untuk tatanan kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara, dan itu dapat dirasakan kebenarannya setelah islam benar-benar dapat diterima di hati mereka.

B. Strategi Dakwah Rasulullah saw di Mekah

Sejak mendapat wahyu pertama, Rasulullah saw segera memikirkan metode dan cara meyampaikan risalah yang diterimanya. Sampai pada akhirnya beliau mengambil keputusan bahwa dakwah harus dilakukan dengan dua tahap, yaitu tahap pertama secara sembunyi-sembunyi dan tahap kedua secara terang-terangan.

Strategi Dakwah Rasulullah saw di Mekah

  1. Dakwah secara Sembunyi-Sembunyi (Al-da’wah bi al-Sirr)

                 Rasulullah saw menampakan Islam pada awal mulanya kepada orang yang paling dekat dengan beliau, anggota keluarga dan sahabat karib beliau. MEreka aalah orang yang sudah beliau kenal baik dan mereke mengenal baik beliau , mereka yang diketehui mencintai kebaikan dan kebenaran, serta mereka juga mengenal kejujuran dan kelurusan beliau. Mereka yang diseru ini, langsung memenuhi seruan beliau karena mereka sama sekali tidak menyangsingkan keagungan diri beliau dan kejujuran kabar yang beliau sampaikan. MEreka dikenal dengan as-sabiqun al-awwalun (yang terdahulu dan yang pertama masuk islam)

Selama tiga tahun dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perseorangan. Selama jangka waktu ini telah terbentuk sekelompok orang-orang mukmin yang saling menguatkan hubungan persaudaraan dan saling membantu. Penyampaian dakwah terus dilakukan hingga turun wahyu yang mengharuskan Rasulullah saw menampakan dakwah kepada kaumnya, menjelaskan kebatilan mereka dan menyerang berhala-berhala sembahan mereka.

2. Dakwah Secara Terang-Terangan (Al-Da’wah bin al-Jahr)

Rasulullah saw melakukan dakwah secara terang-terangan setelah menerima wahyu dari Allah swt agar melaksanakan dakwah kepada manusia secara terbuka. Wahyu yang memerintahkan demikian itu adalah firman Allah Swt dalam Q.S Al-Hijr, 15:94 berikut.

فَٱصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْمُشْرِكِينَ

Artinya : “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (QS 15:94)

Begitu juga firman Allah swt Q.S Al-Maidah, 5 : 67 berikut

يَأَيهَا الرَّسولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْك مِن رَّبِّك وَ إِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْت رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ يَعْصِمُك مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يهْدِى الْقَوْمَ الْكَفِرِينَ‏

Artinya :“Wahai Rasul, sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika kamu tidak melakukan berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjagamu dari bahaya manusia, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”

Dengan turunnya kedua ayat tersebut, rasulullah saw semakin gigih berdakwah secara terbuka di muka umum. Beliau segera mengumpulkan sanak keluarga dan mengundang seluruh penduduk kota Mekah di Bukit Safa, kemudian beliau menyampaikan dakwahnya di atas bukit itu seraya berkata : “Apakah kalian percaya, jika saya katakan di balik bukit ini terdapat pasukan kuda yang akan menyerang kita?” dengan serentak mereka menjawab : “Ya, kami percaya dan tidak meragukan sama sekali sebab selama ini kami tidak pernah melihat engkau berdusta.” Kemudian Rasulullah saw mengatakan : “Selamatlah diri kalian dari api neraka, sesungguhnya aku memberi peringatan kepada kalian tentang siksaan Allah yang amat pedih, mengajak kalian untuk menyembah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian yang menciptakan alam semesta dan yang kamu sembah. Jadi tinggalkanlah Latta, Uzza, dan Manat serta berhala-berhala sesembahan kalian.”

Mendengar dakwah Rasulullah saw reaksi masyarakat Mekah bermacam-macam. Ada yang merasa senang serta menyatakan diri masuk Islam, ada acuh tak acuh dan tidak mau peduli, serta ada merasa tersinggung dan sangat marah, seperti Abu Lahat dan istrinya. Ia mengatakan kepada rasulullah saw: “Celakalah wahai Muhammad, apakan untuk ini kamu mengumpulkan kami semua.” PErkataan Abu Lahat itu, segera dibantah oleh allah Swt dalam Q.S Al-Lahab, 111 : 1-5

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (١) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (٢)سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (٣) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (٤) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

Artinya : “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia!Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.”

Tahap-tahap dakwah rasulullah saw secara terang-terangan ini antara lain sebagai berikut.

  1. Mengundang kaum kerabat keturunan dari Bani Hasyim untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak agar masuk Islam. Walau banyak yang belum menerima agama Islam, ada tiga orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang sudah masuk Islam, tetapi merahasiakannya. Mereka adalah Ali bin Abu Talib, Ja’far bin Abu Talib, dan Zaid bin Harisah.
  2. Rasulullah sawmengumpulkan para penduduk kota Mekah , terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Kakbah untuk berkumpul di Bukit Safa.

C. Reaksi Kaum Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah saw.

Ada beberapa alasan kaum kafir menolak dan menentang ajaran yang dibawa Rasulullah saw. yaitu sebagai berikut.

Reaksi Kaum Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah saw.

  1. Kesombongan dan Keangkuhan

Bangsa Arab jhiliah dikenal sebagai bangsa yang sangat angkuh dan sombong. Kesombongan mereka tercermin dari syair-syair yang mereka buat , terutama kesombongan kaum quraisy yang merasa suku mereka yang paling terhormat dan paling berpengaruh . Mereka tidak menerima ajaran persamaan hak dan derajat yang dibawa Islam  karena menurut mereka hanya akan menurunkan dan menjatuhkan derajat yang dan martabat serta mengancam kedudukan mereka.

2. Fanatisme Buta terhadap Leluhur

Kebiasaan yang telah mengakar dan turun-temurun dalam melaksanakan penyembahan berhala dan kemusyrikan, menyebabkan bangsa Arab jahiliah sangat sulit menerima ajaran tauhid. Tuhan bagi mereka diwujudkan dalam bentuk berhala-berhala yang mereka buat sendiri sejak ratusan tahun lalu. Fanatisme terhadap ajaran leluhur jelas-jelas telah menenggelamkan mereke ke dalam kesesatan yang nyata. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt Q.S Al-Maidah , 5 : 104 yang artinya :”Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.”

3. Eksistensi dan Persaingan Kekuasaan

Penolakan mereka terhadap ajaran Rasulullah saw secara politis untuk menjaga eksistensi dan pengaruh kekuasaan mereka karena jika mereka menerima ajaran yang dibawa Rasulullah saw, tentu saja akan berakibat pada lemahnya pengaruh dan kekuasaan mereka. Itulah sebabnya mereka “mati-matian” mempertahankan eksistensi dan keberadaan mereka untuk menolak Rasulullah saw.

Menurut Prof. Dr. A Shalaby dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Islam,  telah menjelaskan sebab-sebab kaum Quraisy menentang dakwah Rasulullah saw yaitu sebagai berikut.

  1. Kaum kafir Quraisy, terutama para bangsawannya sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak dan kedudukan antara semua orang. Mereka mempertahankan perbudakan, sedangkan ajaran Rasulullah saw (Islam) melarangnya.
  2. Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam tentang adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan alam akhirat karena mereka merasa ngeri dengan siksa kubur dan azab mereka.
  3. Kaum kafir Quraisy menolak ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidup bermaysarakat warisan leluhur mereka.
  4. Kaum kafir Quraisy menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah saw karena Islam melarang menyembah berhala.

Baca juga : “Ijtihad Sumber Hukum Islam : Pengertian, Bentuk Ijtihad, Syarat Ijtihad, Kedudukan Ijtihad dan Hadis mengenai Ijtihad”

D. Contoh-Contoh Penyiksaan Quraisy terhadap Rasulullah saw dan Para Pengikutnya

Berikut adalah contoh-contoh penyiksaan kafir Quraisy terhadap Rasulullah saw dan para pengikutnya.

  1. Diceritakan suatu hari, Abu Jahal melihat Rasulullah saw di Safa, ia mencerca dan menghina tetapi tidak ditanggapi oleh Rasulullah saw. dan ia beranjak pulang. Kemudian Abu Jahal pun bergabung dengan kelompoknya kaum Quraisy di samping Kakbah. Mendengar kejadian tersebut, Hamzah, paman Rasulullah saw marah seraya bangkit mencari Abu Jahal. Ia kemudian menemukan Abu Jahal yang sedang menduduk di samping Kakbah dengan kelompoknya kaum Quraisy. Tanpa banyak bicara, ia langsung mengangkat busur dan memukulkannya ke kepala Abu Jahal hingga kepalanya terluka. ” Engkau mencerca dia (Rasulullah saw) padahal aku sudah memeluk agamanya. Aku menempuh jalan yang ia tempuh. Jika mampu, ayo lawan aku!” tantang Hamzah.
  2. Diceritakan kala itu Uqbah bin Abi Mu’it melihat Rasulullah saw bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Rasulullah saw dengan serbannya dan menyeret ke luar masjid. Beberapa orang datang menolong Rasulullah saw karena takut kepada Bani Hasyim.
  3. Paman Nabi yang bernama Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil tiada tara kejinya. Rasulullah saw bertetangga dengan mereka. Mereka tak pernah berhenti melemparkan barang-barang kotor kepada Nabi. Suatu hari mereka melemparkan kotoran domba ke kepala Nabi. Sekali lagi Hamzah membalasnya dengan menimpakan barang yang sama ke kepala Abu Lahab.
  4. Kaum Quraisy memutuskan untuk memboikot kaum muslimin dalam segala bentuk hubungan perkawinan dan perdagangan dengan Bani Hasyim. Persetujuan pemboikotan ini dibuat dalam bentuk piagam, ditandatangani  bersama dan digantungkan di Kakbah. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-7 kenabian dan berlangsung selama tiga tahun. Pemboikotan ini mengakibatkan kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan bagi kaum muslimin. Untuk meringankan penderitaan kaum muslimin, mereka pindah ke suatu lembah di luar kota Mekah.

E. Perjanjian Aqabah

Perjanjian Aqabah

Karena kerasnya penolakan dan perlawanan suku Quraisy terhadap dakwah Nabi Muhammad saw, mendorong Nabi Muhammad sawmelancarkan dakwahnya kepadakabilah-kabilah Arab diluar suku Quraisy. Suku Aus dan Khazraj di Madinah menyadari derita dan kerugian yang mereka alami akibat permusuhan mereka.

Oleh karena itu, mereka sepakat mengangkat Abdullah bin Muhammad dari suku Khazraj sebagai pemimpin. Namun, hal itu tidak terlaksana disebabkan oleh beberapa orang khazraj pergi ke Mekah pada musim ziarah (haji). Kedatangan orang-orang Khazraj ke Mekah diketahui oleh Nabi Muhammad saw dan ia pun segera menemui mereka. Setelah Nabi berbicara dan mengajak mereka untuk memluk agama Islam, merekapun saling berpandangan dan salah seorang dari mereka berkata sungguh inilah “NAbi yang pernah dijanjikan oleh orang-orang Yahudi kepada kita dan jangan sampai mereka mendahului kita”.   Setelah itu mereka kembali ke Yasrib dan menyampaikan berita kenabian Muhammad saw. Mereka menyatakan kepada masyarakatnya bahwa mereka telah menganut Islam. Berita danpernyataan yang mereka sampaikan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Pada muslim di era tahun berikutnya, datanglah 12 orang penduduk Yasrib menemui Nabi MUhammad saw di Aqobah. Di tempat ini mereka berikrar kepada Nabi yang kemudian dikenal dengan perjanjian Aqobah. Perjanjian Aqobah 1 ini, orang-orang YAsrib berjanji pada Nabi untuk tidak menyekutukan Tuhan, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan memfitnah baik di depan maupun di belakang, dan jangan menolak berbuak kebaikan. Siapa mematuhi semua itu akan mendapat pahala surga dan kalau ada yang melanggar, persoalannya kembali pada Allah swt. Selanjutnya, nabi menugaskan Mus’a bin Umair untuk membacakan Al-quran , mengajarkan Islam serta seluk beluk agama Islam kepada penduduk Yasrib. Sejak itu, Mus’ab  tinggal di YAsrib. Jika muslim ziarah tiba, dia berangkat ke Mekah dan menemui Nabi Muhammad saw. dalam pertemuan itu, Mus’af menceritakan perkembangan masyarakat muslim YAsrib yang tangguh dan kuat. Berita ini sungguh menggembirakan Nabi dan menimbulkan keinginan dalam hati Nabi untuk hijrah ke sana.

Pada tahun 622 M, pejiarah YAsrib yang datang ke Mekah berjumlah 75 orang, dua orang diantaranya perempuan. Kesempatan ini digunakan Nabi untuk melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dengan para pemimpin mereka. PErtemuan Nabi dengan para pemimpin Yasrib yang berjiarah ke Mekah disepakati di Akobah pada tengah malam pada hari-hari tasrib (tidak sama dengan hari Tasrib yang sekarang). Malam itu , Nabi Muhammad saw ditemani oleh temannya, Abbas bin Abdul Mutalib (yang masih memeluk agama nenek moyangnya) menemui orang orang YAsrib. Pertemuan malam itu kemudian dikenal dalam sejarah sebagai perjanjian Aqobah 2. PAda malam itu , mereka berikrar kepada Nabi sebagai berikut, ” Kami berikrar, bahwa kami sudah mendengar dan setia di waktu suka dan duka, di awktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yagn benar dimana saja kami berada, dan di jalan Allah swt. ini kami tidak gentar terhadap ejekan dan celaan siapapun”

Setelah masyarakat Yasrib menyatakan ikrar mereka, Nabi berkata kepada mereka, ” Pilihkan buat saya 12 orang pemimpin dari kalangan kalian yang menjadi penanggunjawab masyarakatnya.” Mereka memilih 9 orang dari Khazraj dan 3 orang dari Aus. Kepada 12 orang itu, Nabi mengatakan ” kalian adalah penanggungjawab masyarakat, kalian seperti pertanggungjawaban pengikut-pengikut Isa bin Maryam. Terhadap masyarakat saya, sayalah yang bertanggungjawab”. Seteleh ikrar selesai, tiba-tiba terdengar teriakan yang ditujukan kepada kaum Quraisy, ” Muhammad dan orang-orang murtad itu sudah berkumpul akan memerangi kamu!” semua kaget dan terdiam. Tiba-tiba Abbas bin Ubadah, salah seorang peserta ikrar, berkata kepada Nabi ” Demi Allah swt yang mengutus Anda berdasarkan kebenaran jika Nabi mengijinkan, besok penduduk Mina akan kami habisi dengan pedang kami.” Lalu Nabi Muhammad saw menjawab ” Kita tidak diperintahkan untuk itu, kembalilah ke kemah kalian!”. Keesokan harinya, mereka bangun pagi-pagi sekali dan segera pulang ke Yasrib.

F. Peristiwa Hijrah Kaum Muslimin

  1. Hijrah ke Abisinia (Habsyi)

Untuk menghindari bahaya penyiksaan, Nabi Muhammad saw menyarankan para pengikutnya untuk hijrah ke Abisinia (Habsyi). Para sahabat pergi ke Abisinia dengan dua kali hijrah. Hijrah pertama sebanya 15 orang, 11 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Mereka berangkat secara sembunyi-sembunyi dan sesampainya disana, mereka mendapatkan perlindungan yang baik dari Najasi (sebutan untuk raja Abisinia). KEtika mendengar keadaan Mekah telah aman, mereka pun kembali lagi.

Namun, mereka kembali mendapatkan siksaan melebihi dari sebelumnya. Oleh karena itu, mereka kembal hijrah untuk yang kedua kalinya ke Abisinia (tahun kelima dalam kenabian atau tahun 615 M). Oleh ini mereka berangkat sebanyak 80 rang laki-laki, dipimpin oleh Jafar bin Abitolib. Mereka tinggal disana hingga sesudah Nabi hijrah ke Yasrib (MAdinah). Peristiwa hijrah ke Abisinia ini dipandang sebagai hijrah pertama dalam Islam. Peristiwa hijrah ke abisinia ini sungguh tidak menyenagkan kaum Quraisy dan menimbulkan kekhawatiran yang sangat besar.. Ada dua hal yang dikhawatirkan oleh kaum quraisy, yaitu yang pertama, kaum muslimin akan dapat menjalin  hubungan yang luas dengan masyarakat arab;, kedua, kaum muslimin akan menjadi kuat dan kembali ke Mekah  untuk menuntut balas.

Oleh karena itu mereka mengutus Amr bin As dan Abdullah bin Rabi’ah kepada Najasyi agar mau emnyerahkan kaum muslimin yang berhijrah ke sana. Dengan berkata, “Paduka Raja, mereka yang datang ke negeri tuan ini adalah mempersembahkan hadiah yang besar kepada Najasyi, kedua utusan itu budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan  agama nenek moyang dan tidak pula menganut agama paduka (kirsten) : mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka. Kami diutus oleh pemimpin-pemimpin mereka, orang-orang tua mereka, paman-paman mereka, dan keluarga-keluarga mereka supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada pemimpin-pemimpin kami. Mereka lebih tahu betapa orang-orang itu mencemarkan dan mencerca agama mereka .”

2. Hijrah ke Madinah

Setelah peristiwa ikrar Aqabah 2 diketahui oleh orang-orang Quraisy, maka saat itulah tekanan, intimidasi, dan siksaan terhadap kaum muslimin makin meningkat. Kondisi inilah yang mendorong Nabi segera memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Yasrib. Dalam waktu dua bulan saja , hampir semua kaum muslimin , sekitar 150 orang telah berangkat ke YAsrib. Hanya Abu Bakar dan Ali yang masih menjaga dan membela Nabi di Mekah.

Akhirnya Nabi pun hijrah setelah mendengar rencana Quraisy yang ingin membunuhnya . NAbi Muhammad saw dengan ditemani oleh Abu Bakar berhijrah ke YAsrib. Sesampainya di Quba, 5 km dari Yasrib, Nabi beristirahat  dan tinggal disana selama beberapa hari. Nabi menginap di rumah Umi Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini NAbi membangun sebuah masjid. Inilah masjid pertama yang dibangun pada masa Islam yang kemudian dikenal dengan masjid Quba. Tak lama kemudian, Ali datang menyusul setelah menyelesaikan amanah yang diserahkan Nabi kepadanya pada saat berangkat hijrah. Ketika Nabi memasuki kota Yasrib, ia dielu-elukan oleh oenduduk kota itu dan menyambut kedatangannya dengan penuh kegembiraan. Sejak itu, nama YAsrib diganti dengan Madinatun Nabi (Kota Nabi) atau sering pula disebut dengan Madinatul Munawwarah (Kota yang bercahaya). DIkatakan demikian karena memang dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh penjuru dunia.

G. Menerapkan Perilaku Mulia

Perilaku yang dapat diteladani dari perjuangan dakwah Rasulullah saw pada periode Mekah diantaranya sebagai berikut.

  1. Memiliki Sikap Tangguh
  • Menggunakan waktu untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan prestasi yang tinggi.
  • Secara terus menerus mencoba sesuatu yang belum pernah dikerjakan sampai ditemukan solusi untuk mengatasinya.
  • Melaksanakan segala peraturan di sekolah sebagai bentuk pengalaman sikap disiplin dan tanggungjawab.
  • Menjalankan segala perintah agama dan menjauhi larangannya dengan penuh keikhlasan .
  • Tidak putus asa ketika mengalami kegagalan dalam meraih suatu keinginan. Jadikanlah kegagalan sebagai cambuk agar tidak mengalaminya lagi di kemudian hari.

2. Memiliki Jiwa Berkorban

  • Menyisihkan waktu sebaik mungkin untuk kegiatan yang bermanfaat.
  • Mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
  • Menyisihkan sebagian harta untuk membantu orang lain yang membutuhkan.

Baiklah itu dia Artikel Pandai mengenai “Meneladani Perjuangan Rasulullah saw di Mekah-Madinah”. Semoga kita semua dapat mencontoh Perilaku yang dapat diteladani dari perjuangan Rasulullah saw dalam menegakan dan menyebarkan agama Islam di mukabimi ini. Semoga bermanfaat salam Artikel Pandai

No Responses

Add a Comment