MUSIK TRADISIONAL ( Pengertian, Fungsi, Jenis, Musik Sebagai Simbol)

Musik Tradisional- Pada kesempatan kali ini kita akan membahas dan mempelajari pelajaran Seni Budaya mengenai “Musik Tradisional” . Dalam materi pelajaran kali ini kita diharuskan memahami jenis dan fungsi alat musik tradisional, menganalisis alat musik tradisional berdasarkan jenis dan fungsinya pada masyarakat pendukungnya. Langsung saja mari kita simak pembahasannya, semoga bermanfaat.

Pengertian Musik Tradisional

Musik pada hakikatnya adalah seni yang menggunakan media penciptaan bunyi. Namun, tidak semua bunyi dapat disebut musik karena sebuah musik harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut  juga ditopang oleh berbagai komponen, seperti melodi, harmoni, ritme,timbre (warna suara), tempo, dinamika, dan bentuk. Seni musik adalah seni pengorganisasian bunyi dilakukan dengan teknik tertentu, yang mempunyai arti dan makna estetis di dalamnya.

Musik Tradisional

Hoffer (1985 : 22) dalam Sumaryanto menegaskan ada dua ciri utama bagi suatu bunyi dapat disebut musik, yaitu pengorganisasian bunyi dan artinya. Musik adalah pengorganisasian bunyi dan memiliki arti terjadi dalam rntang waktu tertentu dan biasanya mempunyai pitch.

Musik tradisional adalah musik yang berasal dari daerah tertentu yang memiliki karakter atau gaya yang menjadi ciri khas daerah tersebut. Keberlangsungan musik tradisional melalui upaya pewarisan secara turun temurun pada masyarakat pemiliknya.

Fungsi dan Jenis Musik Tradisional

 

Fungsi musik tradisional antara lain sebagai berikut.

1. Sarana Upacara Budaya (Ritual)

Di beberapa daerah, bunyi yang dihasilkan oleh instrumen atau alat tertentu diyakini memiliki kekuatan magis. Oleh karena itu,instrumen seperti itu dipakai sebagai sarana kegiatan upacara adat masyarakat.

2. Sarana Hiburan

Musik tradisional berfungsi sebagai hiburan atau menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas harian, serta sebagai sarana rekreasi dan ajang pertemuan dengan warga lainnya.

3. Sarana Ekspresi Diri

Musik bagi seniman sebagai media mengekspresikan diri serta mengungkapkan perasaan, pikiran, gagasan, dan cita-cita tentang diri , masyarakat, Tuhan, dan dunia.

4. Sarana Komunikasi

Alat musik digunakan sebagai sarana komunikasi yang memiliki tanda bagi maysarakatnya, sebagaimana kenuntungan dalam masyarakat yang tiap bunyinya memiliki pesan tertentu.

5. Pengiring Tarian

Di berbagai daerah Indonesia, bunyi-bunyian atau musik diciptakan oleh masyarakat untuk mengiringi tarian-tarian daerah.

6. Sarana Ekonomi

Pemain musik tradisional dalam mempertunjukan permainan musiknya bertujuan sebagai sarana penghidupan ekonomi mereka.

Musik tradisional dapat digolongkan menjadi beberpa jenis, yaitu alat musik/instrumen perkusi, petik, dan gesek.

  1. Instrumen musik perkusi yaitu dimainkan dengan cara dipukuli dengan tangan atau stik, misalnya gamelan, talempong (Minangkabau), kolintang (Minahasa), arumba (Jawa Barat), gendang, tifa (Papua dan Maluku), dan lain-lain.
  2. Instrumen musik petik, misalnya kecapi (Jawa Barat), siter (Jawa Tengah), sasando (NTT), sampek (Kalimantan), hapetan (Tapanuli), dan junggaa (Sulawesi Selatan).
  3. Instrumen musik gesek, misalnya rebab yang dijumpai di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jakarta, serta oyahan yang ada di Bali dan Kalimantan.
  4. Instrumen musik tiup, misalnya sejenis seruling, seperti saluang (Sumatera Barat), seruni (Sumatera Barat dan Kalimantan), dan seruling lembang (Tana Toraja).

Musik Sebagai Simbol Masyarakat Pendukungnya

Musik tradisional di wilayah Nusantra masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan karakteristik musik tradisional tersebut terletak pada pola dan irama. Selain itu, juga instrumen musik dan bahasa yang digunakan. Perbedaan tersebut menjadikan musik tradisional memiliki makna yang berbeda di setiap daerah. Sebagian besar musik tradisional digunakan untuk mengiringi lagu daerah (musik vokal), tetapi juga ada yang berupa permainan instrumen musik (instrumental).

Sebagaimana cabang seni yang lain, musik sarat dengan simbol-simbol tertentu yang berhubungan erat dengan makna tertentu dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Simbol tersebut tampak pada karakter bunyi yang dihasilkan oleh instrumen-instrumen tersebut (musikal) dan vokal/suara manusia. Secara musikal, simbol-simbol musik tampak pada elemen-elemen di dalamnya, seperti tinggi rendahnya nada, ritme, dinamika, atau tempo. Sebagaimana unsur-unsur dasar musik dan unsur ekspresi musik yang idjelaskan berikut.

1. Unsur Dasar Musik

a. Nada
Nada adalah bunyi yang frekuensinya tetap, sedangkan frekuensi adalah jumlah getaran per detik. Makin banyak frekuensi bunyi, makin tinggi nadanya, dan sebaliknya. Kuat rendahnya nada ditentukan oleh lebar getaran atau amplitudo. Makin lebar amplitudonya, makin keras suaranya. Timbre atau warna nada ditentukan oleh instrumen, sumber bunyi, dan cara memainkannya.

Stemfluit (ditiup) dan stemvork atau garpu tala (diketukkan) adalah alat sebagai pedoman untuk menala atau menyetem nada. Nada dan not perlu dibedakan. Nada lebih bersifat audio (yang terdengar). Letaknya dapat berubah menurut tangga nada atau kunci yang digunakan. Sering diwujudkan dalam not angka. Not angka ini cocok digunakan sebagai notasi musik vokal. Adapun not bersifat visual (yang terlihat), nama dan letaknya pada paranada tetap (mutlak) meskipun tangga nadanya berubah, kecuali jika kuncinya dirubah. Not paranada cocok digunakan untuk notasi musik instrumen.

Sebuah paranada terdiri dari tanda kunci, garis, spasi, garis dan spasi bantu, garis birama, serta garis penutup. Paranada G untuk menotasikan not-not bernada tinggi, sedangkan paranada F untuk not rendah.
Nada pokok adalah nada atau not asli yang dikenal tanda kromatik. Ada beberapa tanda kromatik, yaitu sebagai berikut.

  1. (kres) : untuk menaikan not setengah nada.
  2. (mol) ; untuk menurunkan not setengah nada.
  3. (pugar) : untuk mengembalikan not yang telah dikres atau dimol ke not asal.
      Instrumen musik yang menggunakan sistem papan nada disebut keyboard, misalnya organ, piano, melodeon, xilofon, dan sebagainya.
b. Tangga Nada
    Tangga nada adalah sistem susunan nada dengan pola tertentu. Ada dua tangga nada yaitu tangga nada diatonik yang menggunakan tujuh nada dan pentatonik yang menggunakan lima nada.  Tangga nada diatonik dibagi menjadi tangga nada minor dan mayor. Tangga nada minor lebih banyak digunakan pada lagu-lagu yang berkesan sedih, sedangkan mayor pada lagu yang bersuasana riang. Tangga nada pentatonik dibagi menjadi tangga nada pelog, salendro/slendro, dan madenda.

c. Harmoni
     Harmoni adalah komposisi bebagai bunyi atau melodi yang mengiringi melodi utama. HArmoni sederhana adalah akor. Akor adalah tiga nada/not atau lebih yang masing-masing berjarak tert (interval berseling 1 nada) untuk mengharmonisasi atau mengiringi melodi/lagu. Interval adalah jarak antara dua buah not.

d. Melodi
     Melodi adalah susunan nada yang diatur tinggi rendahnya, pola, dan harga nada sehingga menjadi kalimat lagu. Melodi adalah garis musik dan nada tunggal yang dimainkan secara berturut, atau pitches yang memiliki susunan atau kelompok. Karakteristik nada meliputi jangkauan (rentang), bentuk, dan gerakan.
1) Jangkauan (Rentang)
      Rentang atau kisaran pitch nada adalah jarak antara nada rendah dan tinggi. Penyanyi mengacu pada scale pitches artinya fokus pada aransemen yang berada dalam kisaran rendah, menengah, atau tinggi.
2) Bentuk
     Bentuk garis melodi mengacu pada garis geometri literal yang dapat dilakukan jika mendaki skala mengambil bentuk ke atas, sementara frasa yang turun berbentuk dalam gerakan ke bawah.
3) Gerakan
    Gerakan dapat berupa diperbantukan atau terpisah. KEtika melodi bergerak bertahap dan terhubung, gerakan ini disebut diperbantukan. Melodi yang melompat tidak ada hubungan dalam atau aliran dikatakan terpisah.
e. Ritme
    Irama (ritme) adalah perulangan bunyi-bunyian menurut pola tertentu dalam sebuah lagu. Perulangan bunyi ini menimbulkan keindahan dan enak untuk di dengar.

2. Unsur Ekspresi Musik

     Unsur ekspresi musik adalah sebagai berikut.
a. Tempo
    Tempo adalah kecepatan lagu karya musik menurut pulsa tertentu. Tempo menentukan ekspresi lagu. TAnda tempo ditulis pada awal lagu dan awal bagian lagu yang berubah temponya (jika ada). Alat untuk mengukur tempo disebut metronom. Ada dua jenis tempo yaitu tempo tetap dan  tempo bergerak. Tempo bergerak berubah mengikuti ekpsresi lagu. Tandanya ditulis pada bagian lagu atau karya musik yang dimaksud. Ada tiga tempo bergerak, yaitu sebagai berikut.
  1. Accelerando (accel.)  : tempo semakin cepat.
  2. Ritardando (rit.)         : tempo semakin lambat
  3. Fermata                      : durasi non atau diam diperpanjang karena pulsa ditahan sejenak, sesuai kehendak konduktor.
b. Dinamik
Dinamik adalah keras lirihnya lagu menurut ukuran intensitas tertentu. Dinamika menentukan ekspresi lagu, tandanya ditulis di atas bagian lagu yang dimaksud.
Berikut jenis tanda tingkat dinamik.

  1. Pianissimo (pp) : sangat lirih
  2. Piano (p)           : lirih
  3. Mezzo piano (mp) : agak lirih
  4. Mezzo forte (mf)  : agak keras
  5. Forte (f)                : keras
  6. Fortissimo (ff)      : sangat keras
       Dinamik bergerak adalah dinamik yang berubah mengikuti ekpresi lagu. Tandanya sebagai berikut.
  1. Kresendo (<)  : suara makin keras.
  2. Deskresendo  : suara makin lirih.
  3. Calando         : berkurang volume suara dan kecepatan.
  4. Subito p atau f : tiba-tiba lirih atau keras.
       Simbol musik dapat juga dilihat dari aspek nonmusiknya, misalnya pada instrumen musik terdapat bentuk, bahan, pembuat instrumen, warna, dan ornamen-ornamen yang tampak pada instrumen tersebut.

Memainkan Alat Musik Tradisional

Permainan musik merupakan aktivitas atau kegiatan musik yang dilakukan manusia. Dalam prosesnya, permainan musik dapat dilakukan secara perorangan/tunggal atau kelompok. Permainan musik dapat menggunakan media yang dapat dijadikan sebagai instrumen perkusif sederhana yang ada di sekitar Anda, seperti botol dan sendok, bel, tepukan tangan, serta entakan kaki. Dapat juga menggunakan instrumen musik.

Instrumen musik sangat bervariasi dalam bentuk ataupun warna suara. Klasifikasi alat musik menurut Curt Suchs dan Hornbostel sebagai berikut.

  1.  Idiophone : Badan alat musik itu sendiri yang menghasilkan bunyi. Contoh : triangle, cabaza, dan marakas.
  2. Aerophone : Udara atau satuan udara yang berada dalam alat musik itu sebagai penyebab bunyi. Contoh :recorder, seruling, dan saksofon.
  3. Membranophone : Kulit atau selaput tipis yang ditegangkan sebagai penyebab bunyi. Contoh : gendang, conga, dan drum.
  4. Chordophone : Senar (dawai) yang ditegangkan sebagai penyebab bunyi. Contoh : biola, gitar, dan mandolin.
  5. Electrophone : Alat musik yang ragam bunyi atau bunyinya dibantu atau disebabkan adanya daya listrik. Contoh : keyboard, portasound, dan gitar elektrik. Untuk dapat mempelajari musik dengan baik kita membutuhkan notasi musik atau sistem nada.
      Kita tahu Indonesia memiliki beragam alat musik tradisional yang memiliki bentuk dan teknik memainkannya yang berbeda-beda. Salah satu alat musik tradisional dari Jawa Timur yang akan kita pelajari adalah bonang. Bonang merupakan bagian perangkat gamelan. Bonang merupakan kumpulan dari gong-gong kecil yang disebut pot atau ceret dan disusun pada bingkai kayu yang disebut jaleran atau rancak. Bonang disusun dalam dua baris, baris pertama disebut brunjung dan baris kedua disebut setren atau dhempok. Anda harus menggunakan bhindi atau alat pemukul bonang untuk memainkan alat musik ini.
     Bonang terdiri dari tiga bagian, yaitu bonang barung, bonang penerus, dan bonang penembung. Ketiga jenis tersebut memiliki fungsi dan ketukan yang berbeda untuk menghasilkan  bunyi, tetapi ketiganya digunakan bersamaan agar menghasilkan harmonisasi suara yang sangat indah di telinga penikmat musik. Cara memainkan alat musik bonang pun tidak sembarangan dipukul, ada teknik dan caranya tersendiri.

Berikut cara memainkan bonang.

1. Teknik Dua Nada Dipukul Bersamaan

    Teknik ini juga memiliki dua macam jenis pukulan yaitu gembyang dan kempyung.
a. Gembyang
    Teknik gembyang dilakukan dengan cara menabuh bonang menggunakan  kedua tangan Anda pada dua nada yang sama secara bersamaan, misalnya nada 2 rendah dipukul bersamaan dengan nada 2 tinggi atau nada 1 tengah dipukul bersamaan dengan nada 1 tinggi.
 
b. Kempyung
    Teknik kempyung sedikit berbeda dengan teknik gembyang. Teknik kempyung dilakukan dengan cara menabuh bonang menggunakan kedua tangan Anda pada dua nada yang berbeda secara bersamaan.

2. Teknik Beberapa Nada Dipukul Satu Per Satu

         Teknik ini di daerah Jawa disebut dengan mipil. Mipil berasal dari kata pipil (bahasa Jawa) yang berarti mengambil biji jagung satu per satu. Hal tersebut yang serupa dengan teknik ini yaitu memukul bonang satu persatu nada bagian pencon (bagian atas bonang yang menonjol). Mipil memiliki berbeda jenis, antara lain mipil lombo dan mipil lados.
a. Mipil Lombo
    Pola mipil jenis ini digunakan pada boang barung di irama I. Ketika bonang barung dipukul dengan teknik mipil lombo, bonang penerus menggunakan teknik mipil lados.
 
b. Mipil Lados

Pola mipil jenis ini digunakan pada bonang barung di irama II. Ketika bonang barung dipukul dengan teknik mipil lados, bonang penerus menggunakan teknik mipil rangkep.

3. Teknik Imbal-Imbalan

Teknik ini merupakan pola pukul imbal yang dilakukan oleh sepasang bonang, yaitu bonang barung dan bonang penerus. Biasanya teknik ini digunakan ketika penabuh gendang menabuh gandang ciblon, misalnya :

  • Bonang barung : . 1 . 3. 1. 3
  • Bonang penerus : 2 . 5 . 2 . 5

Itulah Artikel Pandai mengenai “Musik Tradisional”.  Musik tradisional merupakan bagian dari identitas budaya lokal. Keberadaan musik tradisional sekarang ini menghadapi beberapa ancaman antara lain minimnya minat generasi penerus untuk mencintai atau berusaha melestarikannya.
Semoga dalam pelajaran ini kita lebih mengapresiasi seni musik tradisional dan bahkan bisa lebih mencintai dengan berusaha melestarikannya.

Add a Comment