Pengertian Nematoda, Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Habitat, dan Peranan

Nematoda (Yunani, nema = benang, ode = seperti) adalah cacing yang berbentuk bulat panjang (gilik) atau seperti benang. Nematoda merupakan hewan triploblastik dan pseudoselomata (berongga tubuh semu). Nematoda atau cacing gilig merupakan filum Nematoda. Mereka adalah filum hewan yang beragam yang menghuni rentang lingkungan yang sangat luas.Nematoda telah berhasil beradaptasi dengan hampir setiap ekosistem dari laut (air asin) sampai air tawar, tanah, dan dari daerah kutub sampai daerah tropis, serta ketinggian yang tertinggi sampai yang terendah. Mereka di mana-mana di air tawar, laut, dan lingkungan darat, di mana mereka sering melebihi hewan lain baik jumlah individu dan spesies, dan ditemukan di lokasi yang beragam seperti gunung, padang pasir dan palung samudera. Mereka ditemukan di setiap bagian dari litosfer bumi.

Pengertian Nematoda, Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Habitat, dan Peranan

Cara Hidup dan Habitat Nematoda

Nematoda banyak hidup bebas di alam dan memiliki daerah penyebaran yang sangat luas, mulai dari daerah kutub yang dingin hingga daerah tropis yang panas, dari padang pasir hingga laut yang dalam. Nematoda dapat ditemukan di laut, air payau, air tawar, maupun tanah. Nematoda yang hidup bebas memakan sampah organik , kotoran hewan, bangkai, tanaman yang membusuk, jamur, ganggang, dan hewan kecil lainnya. Namun banyak pula yang hidup parasit pada manusia, hewan, maupun tumbuhan. Nematoda yang hidup parasit pada manusia dapat ditemukan di berbagai organ, misalnya usus halus, anus, pembuluih limfa, pembuluh darah, paru-paru, jantung, dan mata.

Ciri-Ciri Tubuh Nematoda

a. Ukuran dan bentuk tubuh Nematoda

Nematoda memiliki tubuh dengan ukuran yang bervariasi, mulai kurang dari 1 mm hingga lebih dari 1 m. Nematoda yang hidup di air tawar dan darat, biasanya berukuran kurang dari 1 mm, sedangkan yang hidup di laut bisa mencapai 5 cm. Cacing betina berukuran lebih besar dibandingkan cacing jantan. Individu jantan memiliki ujung posterior berbentuk kait.

Nematoda memiliki bentuk tubuh silindris atau bulat panjang (gilik), dan tidak bersegmen. Bagian anterior atau daerah mulut tampak simetri radial, dan semakin ke arah posterior membentuk ujung yang meruncing.

b. Struktur dan fungsi tubuh Nematoda

Nematoda memiliki tiga lapisan embriotik, yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm. Tubuhnya memiliki rongga tubuh semu. Permukaan tubuh ditutupi oleh lapisan kutikula yang keras dan transparan. Cacing yang hidup parasit di saluran pencernaan inang memiliki lapisan kutikula lebih tebal dibanding cacing yang hidup bebas. Di bawah lapisan kutikula cacing, terdapat epidermis yang biasanya terdiri atas sel-sel. Dinding tubuh Nematoda tersusun dari otot longitudinal yang kontraksinya menghasilkan gerakan memukul seperti cemeti. Pseudoselom berisi carian yang berfungsi sebagai rangka hidrostatik dan menunjang gerakan meliuk-liuk.

Nematoda memiliki sistem pencernaan yang lengkap, mulai dari mulut, faring, esofagus (gelembung faring), usus, dan anus. Mulut terletak di ujung anterior dan di sekitarnya terdapat tiga atau enam bibir, papila, dan seta. Mulut berhubungan dengan buccal capsule atau rongga mulut yang terkadang dilengkapi rahang yang kuat. Nematoda karnivor atau herbivor memiliki stilet yang berbentuk seperti jarum suntik atau gigi di dalam rongga mulutnya, yang berfungsi untuk menusuk dan mengisap sari makanan dari tanaman atau mangsa, rektumnya pendek, dan diakhiri oleh anus yang terletak di bagian posterior.

Nematoda tidak memiliki sistem peredaran darah dan sistem pernapasan. Transportasi dan pertukaran zat terjadi secara difusi. nematoda memiliki alat eksresi berupa sistem sel kelenjar dengan saluran atau tanpa saluran. Pada spesies yang hidup di laut, alat eksresi berupa kelenjar renet (renette gland) yang terletak di dekat faring, berjumlah satu atau dua.

Nematoda memiliki alat indra berupa sensila, papila, seta, amfid, dan phasmid. Sera terdapat di kepala dan seluruh permukaan tubuh. Kemoreseptor terdapat diamfid (kepala) dan phasmid (ujung posterior). Nematoda yang hidup bebas biasanya memiliki bintik mata. Sistem saraf berupa lingkaran saraf yang mengelilingi esofagus, berhubungan dengan enam benang saraf anterior dan empat atau lebih benang saraf posterior.

Cara Reproduksi Nematoda

Nematoda bereproduksi secara seksual. Pada umumnya diesis atau gonokoris, yaitu organ kelamin jantan dan betina terdapat pada individu yang berbeda. Fertilisasi terjadi secara internal di dalam tubuh cacing betina. Telur yang sudah dibuahi memiliki cangkang yang tebal dan keras. Permukaan cangkang memiliki pola yang spesifik sehingga sering digunakan untuk proses identifikasi jenis cacing yang menginfeksi manusia melalui pengamatan telur cacing pada tinja. Telur menetas menjadi larva yang berbentuk mirip induknya. Larva mengalami molting atau pergantian kulit hingga empat kali. Cacing dewasa tidak mengalami pergantian kulit, tetapi tubuhnya tumbuh membesar.

Dalam daur hidupnya, Nematoda memerlukan satu inang atau lebih, misalnya Wucherreria bancrofti (cacing filaria) memiliki inang atau lebih, misalnya Wuchereria bancrofti (cacing filaria) memiliki inang utama manusia dan inang perantara nyamuk. Oxyuris vermicularis (cacing kremi) hanya memerlukan satu inang manusia dan tidak memerlukan inang perantara.

Klasifikasi Nematoda

Nematoda dibagi menjadi beberapa kelas, antara latin Adenophoera dan Secernentea.

a. Adenophorea

Anggota kelas Adenophorea tidak memiliki Phasmid (organ kemoreseptor) sehingga disebut Aphasmida. Banyak anggota Adenophorea yang hidup bebas, namun ada yang menjadi parasit pada berbegai hewan, contohnya TichurisI ovis yang menjadi parasit pada domba.

Cacing Trichinella spiralis menjadi parasit di usus karnivor dan manusia. Cacing ini menyebabkan penyakit trikinosis. Setelah cacing dewasa kawin, cacing jantan mati, sedangkan cacing betina menghasilkan larva. Larva memasuki sel sel mukosa dinding usus kemudian mengikuti peredaran darah hingga ke otot lurik. Di dalam otot lurik, larva membentuk sista. Manusia akan mengalami infeksi cacing ini bila memakan daging yang kurang matang dan mengandung sista. Penyakit trikinosis ditandai dengan rasa mual yang hebat dan kadang kadang menimbulkan kematian ketika larva menembus jantung.

larva cacing Trichinella spiralis dalam otot beruang

larva cacing Trichinella spiralis dalam otot beruang

b. Secernentea

Secernentea disebut juga Phasmida, karena anggota spesiesnya memilki phasmid. Banyak anggota kelas ini yang hidup dalam tubuh vertebrata, serangga atau tumbuhan. Berikut akan diuraikan beberapa contoh spesies dari Secernentea.

1) Ascaris lumbriocoides (cacing perut)

Ascaris lumbriocoides merupakan parasit di usus halus manusia yang menyebabkan penyakit askariasis. Infeksi cacing ini menyebabkan penderita mengalami kekurangan gizi. Tubuh bagian anterior cacing memilki mulut yang dikelilingi tiga bibir dan gigig gigi kecil. Cacing betina dewasa berukuran lebih besar daripada cacing jantan. Cacing betina berukuran pkaanjang 20 – 4 cm, diameter 4 – 6 mm, bagian ekor runcing melengkung, dan di bagian anus terdapat spikulaer yang berbentuk kait untuk memasukan sperma ke tubuh betina.

setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan telur. Telur keluar bersama tinja. Telur yang mengandung embrio dapat tertelan bersama sama makanan yang terkontaminasi. Di dalam usus inan, telur menentas menjadi larva. Larva kemudian menembus dingding usus dan masuk ke pembuluh darah, jantung, paru paru, faring, dan usus halus hingga cacing tumbuh dewasa.

ascaris lumbricoides jantan

Ascaris lumbricoides jantan

2) Ancylostoma duodenale ( cacing tambang )

Ancylostoma duodenale disebut cacing tamabng karena sering ditemukan di daerah pertambangan, seperti di afrika. Spesies cacing tambang di amerika yaitu Necator americanus. Cacing ini hidup parasit di usus halus manusia dan menghisap darah sehingga dapat menyebabkan anemia pada penderita ankilostomiasis.

Cacing tambang dewasa betina berukuran 12 mm, memilki organ kelamin luar (vulva), dan dapat menghasilkan 10.000 sampai 30.000 butir telur per hari. Cacing jantan berukuran 9 mm dan memilki alat kopulasi di ujung posterior. Pada ujung anterior cacing terdapat mulut yang dilengkapi 1 – 4 pasang gigi kitin untuk mengcengkram didnding usus inang.

Setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan telur. Telur keluar bersama feses (tinja) penderita. Di tempat yang becek, telur menetas dan menghasilkan larva. larva masuk ke tubuh manusia melalaui pori pori telapak kaki. Larva mengikuti aliran darah menuju jantung, paru paru, faring, dan usus halus hingga tumbuh dewasa.

3) Oxyuris vermicularis (cacing kremi)

Oxyuris vermicularis atau Enterobius vernicularis (cacing kremi) berukuran 10 – 15 mm. Cacing ini hidup di usus besar manusia, terutama pada anak anak. Cacing dewasa betina menuju ke dubur pada malam hari untuk bertelur dan mengeluarkan suatu zat yang menyebabkan rasa gatal. Rasa gatal menyebabkan penderita menggaruknya sehingga telur cacing mudah terselip di kuku kuku. Telur cacing dapat tertelan kembali pada saat penderita makan. Di usus, telur akan menetas menjadi cacing kremi baru. Cara penularan cacing kremi tersebut disebut autoinfeksi.

4) Wuchereria bancrofti (cacing filaria atau cacing rambut) 

Wuchereria bancrofti hidup di parasit di kelenjar hetah bening (limfa). Cacing ini menyebabkan penyakit kaki gajah (elephantiasis) atau filariasis. Cacing dewasa berdiameter 0,3 mm. Cacing betina berukuran panjang 8 cm dan jantan berukuran panjang 4 cm.

Setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan mikrofilaria. Pada siang hari, mikrofilaria berada di pembuluh darah besar dan malam hari pindah ke pembuluh darah kecil di bawah kulit. Bila nyamuk perantara (Culex, Anopheles, Mansonia, atau Aedes) menggigit pada malam hari, mikrofilaria bersama darah masuk ke perut nyamuk. Mikrofilaria menembus dinding usus nyamuk menuju ke otot toraks dan bermetamorfosis. Bila telah berukuran 1,4 mm, mikrofilaria pindah ke belalai nyamuk, dan siap ditukarkan ke orang lain. Pada saat nyamuk mengigit, mikrofilaria keluar dari belalai nyamuk, masuk ke kulit manusia, dan menuju ke pembuluh limfa. Cacing dewasa yang berjumlah banyak akan menghambat sirkulasi getah bening, sehingga setelah beberapa tahun mengakibatkan pembengkakan kaki.

Penderita filariasi (Nematoda)

Penderita filariasi

5) Onchocerca volvulus

Onchocerca volvulus merupakan cacing mikroskopis penyebab ochocerciasis (river blindness) yang mengakibatkan kebutaan. Vektor pembawa adalah lalat kecil pengisap darah black fly (Simulium). Cacing ini banyak terdapat di Afrika dan Amerika Selatan.

Peranan Nematoda dalam Kehidupan Manusia

Pada umumnya nematoda merugikan karena hidup parasit dan menyebabkan berbagai penyakit pada manusia. Banyak pula spesies Nematoda yang menjadi parasit pada tumbuhan, contohnya Globodera rostochiensis yang menjadi parasit pada tanaman kentang dan tomat, dan sebagai vektor virus pada beberapa tanaman pertanian. Namun ada pula Nematoda yang menjadi predator hama seperti ulat tanah. Caenorhabditis elegans merupakan Nematoda yang hidup bebas  di tanah, telah lama digunakan sebagai organisme model untuk penelitian mengenai perkembangan hewan, termasuk perkembangan saraf, karena mudah dikembangbiakkan dan mudah dianalisis struktur genetiknya. NASA bahkan menggunakan Caenorhabditis elegans untuk meneliti dampak gravitasi nol pada perkembangan otot dan fisiologinya dengan mengirim sampel cacing tersebut ke luar angkasa selama dua minggu.

Baca juga : Pengertian Platyhelminthes, Ciri, Klasifikasi, Reproduksi, Habitat, dan Peranan

No Responses

Add a Comment